Sejarah Ciwa Budha di Nusantara Cetak

Awal mula perpaduan agama Ciwa Budha tidak lepas dari sejarah kerajaan Mataram kuno yang terdiri dari dua dinasti, yakni kerajaan Sanjaya dan kerajaan Syailendara . Kerajaan Sanjaya yang bercorak Hindu didirikan oleh Raja Sanjaya. Beberapa saat kemudian, kerajaan Syailendra yang bercorak Budha Mahayana didirikan oleh Raja Bhanu. Kedua raja ini berkuasa berdampingan secara damai. Nama Mataram sendiri pertama kali disebut pada prasasti yang ditulis di masa Raja Balitung.

Raja Syailendra

Raja Syailendra berasal dari daratan Indocina (sekarang Thailand dan Kamboja). Pada awal era Mataram kuno, raja Syailendra cukup dominan dibanding Raja Sanjaya. Pada masa pemerintahan Raja Indra, Syailendra mengadakan ekspedisi perdagangan ke Sriwijaya. Beliau juga melakukan perkawinan politik: Puteranya yang bernama Samaratungga, dinikahkan dengan putri raja Sriwijaya yaitu Dewi Tara. Kemudian Raja Syailendra menyerang dan mengalahkan Chenlan (Kamboja) dan sempat berkuasa disana selama beberapa tahun. Peninggalan terbesar Raja Syailendra adalah Candi Borobudur yang selesai dibangun pada pemerintahan Raja Samaratungga.

Raja Sanjaya

Kerajaan Sanjaya didirikan oleh Raja Sanjaya/Rakeyan Jamri/Prabu Harisdama, cicit Wretikandayun, Raja kerajaan Galuh pertama. Pada saat menjadi penguasa kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan kemudian setelah menguasai kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan Sanjaya. Ibu dari Sanjaya adalah Sahana, cucu Maharani Sima dari Kalingga di Jepara.

Ayahanda dari Sanjaya adalah Bratasena/Sena/Sanna, raja Galuh ketiga. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putra bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua. Sena dilengserkan dari tahta kerajaan Galuh oleh Purbasora.

Purbasora dan Sena adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah. Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan, Pusat kerajaan Sunda dan meminta pertolongan kepada raja Tarusbawa. Ironis sekali, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan kerajaan Galuh dari Tarumanegara, sehingga kerajaan Tarumanegara terpecah menjadi dua kerajaan yaitu Sunda dan kerajaan Galuh.

Sanjaya yang merupakan penerus kerajaan Galuh yang sah, menyerang kerajaan Galuh dengan bantuan Tarusbawa untuk melengserkan Purbasora. Setelah itu Sanjaya menjadi raja di kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh, sehingga bekas kerajaan Tarumanegara dapat disatukan lagi dalam satu kerajaan yaitu kerajaan Sunda Galuh.

Sebagai ahli waris Kalingga, Sanjaya kemudian menjadi penguasa Kalingga utara yang disebut Mataram, dengan kata lain, Sanjaya adalah penguasa Sunda Galuh dan Kalingga/Mataram (Hindu). Dalam masa itu dan masa-masa selanjutnya telah terbentuk semacam ikatan politik (seperti saat Majapahit mempersatukan Nusantara).

Kekuasaan di Jawa Barat kemudian diserahkan kepada putera Sanjaya dari Tejakencana, putri raja Tarusbawa dari kerajaan Sunda yaitu Tamperan atau Rakeyan Panaraban. Sedangkan penerus Sanjaya di kerajaan Mataram adalah Rakai Panangkaran, putera Sanjaya dari Sudiwara, puteri Dewasinga raja Kalingga selatan/Bumi Sambara. Jadi Rakai Panangkaran dan Rakeyan Panaraban/Tamperan adalah saudara seayah tapi lain ibu.

Pemimpin Mataram selanjutnya adalah, Rakai Panunggalan, Rakai Warak dan Rakai Garung. Rakai Garung mempunyai anak yaitu Rakai Pikatan. Rakai Pikatan yaitu menjadi pangeran kerajaan Sanjaya, menikah dengan putri raja Samaratungga yaitu Pramodhawardhani. Sejak itu pengaruh kerajaan Sanjaya yang bercorak Hindu mulai menggantikan menjadi agama Budha dan menjadikan penyatuaan Ciwa Budha. Rakai Pikatan bahkan menyerang raja Balaputradewa (putera Samaratungga dan Dewi Tara) dari kerajaan Syailendari dan berakhir ditandai dengan larinya Balaputradewa ke Sriwijaya. Karena Balaputradewa tidak menyetujui konsep tentang pemahaman Ciwa Budha tersebut.

Kemudian raja Tulodong adalah yang mendirikan Candi Prambanan. Merupakan komplek candi Hindu terbesar di Asia Tenggara. Pada masa ini ditulis sastra Ramayana dalam bahasa kawi.


Pada Jaman pemerintahan raja Kertanagara, raja Singasari terakhir, penyatuan Ciwa dan Budha karena toleransinya yang sangat besar dan juga alasan yang bersifat politik, yaitu untuk memperkuat diri dalam menghadapi musuh dari Kubilai Khan. untuk mempertemukan kedua agama itu, Kertanagara membuat Candi Ciwa Budha yaitu candi Ciwa di Prigen dan Candi Singasari di dekat kota Malang.

Pembaruan Ciwa Budha pada jaman Majapahit antara lain terlihat pada cara mendharmakan raja dan keluarganya yang wafat pada 2 candi yang berbeda sifat keagamaannya. Hal ini dapat dilihat pada raja Majapahit yaitu Kertarajasa yang didharmakan di candi Sumberjati (Simping Blitar) sebagai wujud Ciwa (Ciwawimbha) dan di Antahpura sebagai Budha. Hal ini memperlihatkan suatu kepercayaan dimana kenyataan tertinggi dalam agama Ciwa maupun Budha tidak berbeda.

Agama Ciwa yang berkembang dan dipeluk oleh raja-raja Majapahit adalah Ciwa Siddhanta yang mulai berkembang di Jawa Timur pada masa kerajaan Mataram. Ajaran agama ini sangat dipengaruhi oleh Saiwa Upanisad, Wedanta dan Samkya. Kenyataan tertinggi agama ini disebut Parama Ciwa yang disamakan dengan suku kata suci OM. Dalam pakem berikutnya dikenalkan pengertian sebagai berikut oleh Ida Mpu Kuturan:

    * Parama Ciwa yang bersifat tak terwujud ( niskala)
    * Sada Ciwa yang bersifat berwujud-tak terwujud (sanakala-niskala)
    * Ciwa yang bersifat berwujud (skala)

Selain agama Ciwa Siddhanta dikenal pula aliran Ciwa Bhairawa yang muncul pada pemerintahan Jayabaya. Agama ini adalah aliran yang memuja Ciwa sebagai Bhairawa. Raja-raja Majapahit pada umumnya beragama Ciwa Siddhanta kecuali Tribuwana Tungadewi (raja Majapahit ke 3) yang beragama Budha Mahayana. Walaupun begitu agama Ciwa dan Budha tetap menjadi agama resmi kerajaan dan pada akhirnya dijadikan satu yaitu Ciwa Budha. Pada masa pemerintahan Raden Wijaya (Kertarajasa) ada 2 pejabat tinggi Ciwa dan Budha, yaitu Dharmadyaksa Ring Kasaiwan dan Dharmadyaksa Ring Kasogatan.

Selain itu terdapat pula para agamawan yang mempunyai peranan penting di lingkungan istana yang disebut Tripaksa yaitu Rsi-Saiwa-Sogata berkelompok 3 dan berkelompok 4 disebut catur Dwija yaitu Mahabrahmana (Wipra) – Rsi – Saiwa – Sogata.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa saat itu masyarakat Majapahit sudah amat bahagia gemah limpah loh jinawi. Hindu sendiri dari tiga agama besar, Brahma, Wisnu, Ciwa, lalu ada Budha Tantrayana dan Saiwa Bhairawa serta semua ajaran tersebut dijadikan satu dalam wadah spiritual yaitu Ciwa Budha. Semua mendapat tempat di Majapahit tanpa di-diskriminasi.
Penganut animisme juga banyak dan oleh pemeluk ajaran yang lain, mereka tidak dianggap kafir sebab inilah agama asli nenek moyang. Kerajaan besar ini sangatlah toleran terhadap aliran kepercayaaan karena Majapahit belajar dari kekonyolan kerajaan terdahulu. Pelajaran dari masa lalu adalah yang membuat Majapahit menjadi kerajaan besar, terbuka dan toleran terhadap semua ideologi, bahkan terhadap ajaran yang amat baru dan aneh pun Majapahit sangat toleran, padahal di dalam kerajaan sudah ada pakem yaitu Ciwa Budha tetapi sungguh luar biasa tolerannya terhadap keyakinan.

Mari kita bangsa Indonesia yang katanya sudah maju, berpikir yang sangat positif bahwa tidak ada suatu keyakinan yang membenarkan dirinya yang paling benar, karena di setiap keyakinan ada Tuhan dan di setiap keyakinan Tuhan, ada kebenaran dan ada kesalahan. Jadi semua yang benar maupun yang salah sudah dikehendaki oleh Tuhan itu sendiri. Jadi janganlah saling mendiskriminasikan ajaran/agama orang lain. Kita hidup dalam wadah spiritual Ciwa Budha.

Note:
Kata agama dipakai untuk memudahkan pengertian. Sebenarnya saat tersebut kata agama belum dikenal.

Sumber: Pinisepuh