Situs resmi Puri Agung Dharma Giri Utama

Bhisama Leluhur Majapahit - Yadnya di Besakih Cetak Email
Ditulis oleh Jero Mangku Pasek Mukti Murwo Kuncoro   
Gaweakna yajna aneng bhasakih, ersyaning tapakan bhatara wawu dateng saking wilwatikta majapahit. yan sira lupa bhakti ring manira kadi kocaping prakempa ametu satengahing mulih warsaning bhuwana rwa. yan sire neher bhakti, wetu 150 warna, warsa ning yusaning bhuwana rwa, mwa akadi nguni, tan hana alanya. yan teher tan tihana mwah segara mabuat, kumedeng tangbhwana rwa.

Artinya :
Laksanakanlah yadnya di Besakih, di bagian timur laut di tempat pertama kali Bhatara dari Wilwatikta Majapahit menginjakkan kaki. Jika kalian melupakan yadnya sebagaimana terdapat dalam lontar prekempa ini, umur manusia tidak akan panjang, jika kalian selalu beryadnya umur manusia bisa mencapai 150 tahun, sesuai dengan usia biasanya, bahkan tetap seperti sedia kala tidak akan terjadi bencana. Jika selamanya tidak melaksanakan yadnya, orang tidak akan mengenal tata krama, akan terjadilah badai laut yang akan menghancurkan gunung Agung.

Saya bertanya kepada Ida Mpu Kuturan, kenapa kita harus beryadnya dan kenapa bumi ini harus marah kepada umat manusia. Terus terang saya sangatlah sedih sebagai pelindung umat manusia karena sedemikian besar pengetahuan saya di dunia ini tapi tetaplah tiada artinya. Karena begitu banyaknya para Dewata yang saya kenal, tapi tidak ada satu pun para Dewata yang mau menyadarkan umat manusia untuk beryadnya dan menghentikan bumi ini untuk marah kepada umat manusia. Sungguh saya teramat sedih hati mendengar kehendak langit yang begitu sangat marah kepada umat manusia.

Ida Mpu Kuturan berbicara; Ada yang saling melengkapi dan ada yang saling menghancurkan. Ida Mpu Kuturan juga mengatakan kepada saya tujuan orang melaksanakan yadnya adalah mengangkat derajat makhluk alam semesta agar menghasilkan manusia-manusia sejati melalui jnana yadnya, bukan untuk memenuhi keinginan pribadi yang terbatas. Tujuan yadnya untuk kepentingan seluruh makhluk, bukan untuk kepentingan individu manusianya. Yadnya adalah akar paling mendasar bagi makhluk alam semesta. Yadnya adalah berarti pengorbanan. Prinsip mulia dari pelaksanaan yadnya adalah tidak mementingkan diri sendiri dan melayaninya dengan kasih sayang. Hal terpenting dari kata kunci sebuah yadnya yang terlupakan saat ini adalah pelayanan dan kasih sayang. Lewat pengorbanan yang timbul dari tali kasih, dasarnya adalah pelayanan. Semua bentuk yadnya pada intinya adalah pengorbanan secara fisik dan mental. Dengan kata lain yadnya itu adalah bentuk kebahagian spiritual yang membuang semua buah karma masa lalu. Sekian yang saya beritahukan kepada umat manusia agar ingat selalu pesan-pesan beliau. Rahayu rahayu rahayu, sagung dumadi.

Sumber: Pinisepuh Agung Yudistira
 

Pengurus

Sample image I Gusti Agung Yudisthira
Pinisepuh/ Pelindung
Sample image Jero Mangku Pasek Mukti Murwo Kuncoro
Panglingsir
Sample image JM Taman Sari
Mangku Pemucuk
Sample image Gede Agus Kurniawan
Penasehat
Sample image I Komang Eka Bimawan
Bendahara/Sekretaris
Sample image Jr Mangku Sekar
Upakara

Sample image I Komang Sudiana Adnyana
Humas
Sample image I Gst Ngurah Suarnita
Jagabaya

Hubungi kami

Alamat: Jl. Tegal Harum No 14 Biaung
Denpasar Timur- Bali 80237
Tel: +62 361 466473, 467873
Email:info@dharmagiriutama.org
Web: www.dharmagiriutama.org
Posisi anda  : Home Artikel Kisah Leluhur (Ida Bhatara) Bhisama Leluhur Majapahit - Yadnya di Besakih